Perlu tau ! Rahasia dibalik Jember Fashion Carnaval

Picture art by pixabay 


Halo sahabat edukasi nita marelda  !

Kali ini nitamarelda.com  ingin mengangkat  ulasan kearifan lokal yang ada di Kabupaten Jember .  Bertujuan memberikan edukasi dibidang wisata industri kreatif dan informasi .

Bagi arek Jember maupun para pembaca blog nitamarelda.com siapa tau informasi ini bermanfaat bagi yang lain . Khususnya arek Jember even ini sudah tidak asing lagi tentunya, even  yang menghebohkan   dan dinobatkan sebagai ajang bergengsi tingkat dunia. Menjadi kebanggaan kota Jember memiliki kearifan lokal yang bertaraf Internasional. Mengangkat budaya daerah terinspirasi dari arak – arakan Reog Ponorogo yang menghiasi acara HUT kota Jember maupun saat perayaan kemerdekaan dari even inilah  lahir JFC ( Jember Fashion Carnival) yang digagas oleh Dynand Fariz yang juga pendiri JFC Center . Kearifal lokal yang dikemas secara modern tetapi memiliki ciri khas yang merupakan identitas kota Jember.

Jember Fashion Carnaval atau JFC merupakan acara yang digelar setiap tahun diikuti kurang lebih 2000 an peserta dari berbagai daerah yang ikut meramaikan JFC yang dibagi dalam beberapa Defille. Setiap Defille akan mengangkat tema busana nasional dari daerah tertentu yang dikemas secara modern dengan make-up yang khas ala JFC. 

Even yang sangat ditunggu – tunggu setiap tahun, dan banyak menarik wisatawan baik lokal maupun wisatawan asing ikut menyaksikan parade Fashion yang digelar disepanjang jalan utama kota Jember sepanjang 3,6 km  disaksikan ratusan ribu penonton juga wartawan dari berbagai media masa baik dalam dan luar negeri. 

Sejak pandemi acara ini jadi terhenti karena kondisi yang tidak memungkinkan. 

Acara yang mengangkat kreativitas trend fashion ini juga dikompetisikan untuk mendapatkan penghargaan – penghargaan .

Kearifan lokal  yang di ejawantahkan dalam konsep modern mampu mengangkat kota Jember dimata dunia. Sebuah kota kecil yang tidak begitu dikenal menjadi bahan perbincangan dan menjadi wisata tujuan saat JFC digelar. Sayang even ini masih terhenti karena pandemi semoga setelah pandemi  berlalu even ini bisa bangkit dan digelar kembali. 

Bagi siapa saja yang pernah menonton even ini pasti akan berdecak kagum dengan kreativitas yang disuguhkan. Even terakhir digelar sebelum pandemi  dihadiri Cinta Laura.   Ulasan berikut mengangkat satu fokus keunikan dari fashion sepatu yang dikenakan para peserta JFC.  Mungkin tak banyak khalayak yang tau sepotong cerita dibalik  kemegahan JFC. 

Simak yaa !!

Rahasia dibalik Jember Fashion Carnaval  

Riasan JFC yang memiliki ciri khas, kostum hingga sepatu yang dikenakan peserta, adalah bagian yang menarik magnet mata para penonton. Sepatu dengan design unik nan menarik. 

Penontonpun akan berpikir sepatu  yang dikenakan peserta akan mengundang tanya karena dirancang dan memiliki design khusus yang ngak bakal ditemui ditoko sepatu.

Dibalik design sepatu unik yang dipakai peserta JFC ternyata ada  Bapak Syarif Rahmat

Bapak Syarif Rahmat pria kelahiran Bandung ikut memberikan sentuhan dibalik pesona para peserta JFC. 

dok pri foto bersama pak Syarif


Sejak awal tahun 2010 Bapak Syarif sudah menerima pesanan sepatu namun hanya urusan perbaikan sol dan membetulkan sepatu saja yang dikerjakan dipinggir jalan, hingga kemudian berkembang menjadi pengrajin sepatu.

Awalnya Bapak Syarif ini bekerja di Bali tepatnya ditempat pembuatan dan perbaikan sepatu. Sebelum kemudian memutuskan untuk pindah ke Jember karena Bom Bali, dengan berbekal pengalaman yang dimiliki beliau  membuka usaha pembuatan sepatu yang diberi nama  “ Syarif Rahmat Shoes “ dengan berkembangnya usaha sepatu Pak  Syarif nama usaha sepatu ini berubah menjadi  “ Mote’kar Shoes” yang artinya “ Kreatif ” dalam  Bahasa Indonesia. Mote’kar sendiri berasal dari bahasa Bandung yang merupakan kota kelahiran Pak Syarif.

Sepatu yang diproduksi oleh Pak Syarif ini dikerjakan dengan cara manual,  sehingga dapat menerima pesanan sepatu yang berukuran khusus seperti sepatu drumband maupun permintaan sepatu dengan model khusus,  dari informasi yang berhasil dihimpun sebetulnya beliau  mengalami kesulitan dalam memenuhi permintaan sepatu dengan design unik dan sedikit rumit namun beliau selalu mempelajari pola dan teknik pembuatan agar sepatu yang dihasilkan bagus,nyaman dan seimbang. 

Kebanyakan sepatu pesanan yang dikerjakan Pak Syarif adalah sepatu untuk karnaval bahkan setiap tahun Pak Syarif membuat pesanan sepatu untuk Puteri Indonesia yang akan berkompetisi di ajang Internasional. 

Bahan pembuatan sepatu Mote’kar ini kebanyakan didapat dari luar daerah seperti Surabaya, Bandung dan daerah lainnya. 


dok pri tempat pembuatan Mote'kar Shoes 

Untuk pemasaran sepatu Mote’kar Pak Syarif menggunakan sosial media  Facebook & Instagram sebagai media promosi sepatu hasil karyanya. 

Harga yang dibandrol untuk setiap sepatu Mote’kar berkisar mulai harga Rp.75.000,- hingga  Rp.500.000,-. Mayoritas pemesan sepatu justru berasal dari luar daerah seperti Bandung, Surabaya, Yogyakarta dan daerah lain diluar  Pulau Jawa  , sedangkan pesanan pasti setiap tahun berasal dari dalam daerah yaitu dari para peserta Carnaval dan peserta Jember Fashion Carnaval , bahkan sepatu Mote’kar ini dipakai  hingga ke mancanegara oleh peserta Jember  Fashion Carnaval pada even – even diluar negeri. 

Omset yang didapat setiap bulannya tidak menentu, kurang lebih RP. 5.000.000,-  setiap bulannya. Omset yang tidak terlalu besar ini dikarenakan sepatu buatan pak Syarif ini di buat secara manual dan dikerjakan dengan ketelitian dan kesabaran yang tinggi agar menghasilkan sepatu yang nyaman saat dipakai. Pak Syarif sendiri pernah melatih 8 orang pekerja untuk membantu proses pembuatan sepatu namun hal ini dipandang kurang sesuai menurut  keinginan pemilik  Mote’kar karena pekerja yang dilatih kurang teliti dan kurang sabar dalam mengerjakan proses pembuatan sepatu hingga akhir. 


dok pri alat manual pembuatan sepatu 

Pak Syarif sendiri sangat terbuka bagi siapa saja yang berminat berkunjung untuk melihat proses pembuatan sepatu buatannya namun tentu saja dengan persetujuan beliau,  karena  proses pembuatannya yang secara manual tidak menggunakan mesin otomatis, membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang menyita perhatian beliau membutuhkan konsentrasi tinggi, hal ini membuat beliau kurang leluasa jika ada yang melihat  proses pembuatannya. 

Semoga tulisan pendek ini mampu memberikan informasi yang bermanfaat  bagi pembaca yang berkunjung.

Ditulis oleh Nita Hartini Guru SDN Ajung 03 Jember Jawa Timur 





Posting Komentar

16 Komentar

  1. Keren!! ๐Ÿ‘๐Ÿ‘Bangga sebagai orang Jember dan semoga pandemi covid 19 segera berakhir sehingga JFC bisa dilaksanakan lagi seperti dulu.๐Ÿ™๐Ÿผ๐Ÿ™๐Ÿผ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bangga kita Arek Jember dg alm bpk Dynand Fariz yg sudah mengangkat Jember di kancah Internasional hingga Asia Tenggara melalui JFC semoga menjadi ladang amal tiada henti buat beliau Aamiin

      Hapus
  2. Bagus bgt ulasan artikel ini.hebat nita

    BalasHapus
  3. Mantap...harus d lanjutkan kreatifitas anak anak jbr

    BalasHapus
  4. Kreativitas Mas Syarif Rahmat ini perlu dicontoh. Selamat pagi ananda Nita.

    BalasHapus
  5. Wah sudah bagus blognya, di lanjutkan

    BalasHapus
  6. Wah keren, itu konfeksi sepatu ya mba

    BalasHapus
  7. kunjungan pertama. salam kenal

    BalasHapus